Mengenal Surat Kepemilikan Properti SHM dan SHGB

0
57

Bila kita membeli properti baik itu lahan tanah atau berupa rumah ( Landed House) tentunya kita sering bertanya apa sih status lahan yang kita miliki? Pada umumnya untuk rumah itu jenis suratnya adalah SHM kalau tidak tentu SHGB. Terus apa yang membedakan keduanya ?

Yuk kita bahas satu per satu.

SHM ( Sertifikat Hak Milik ) adalah status milik yang paling kuat dan penuh serta dapat dialihkan melalui jual beli, hibah hingga diwariskan. SHM paling kuat karena tidak dapat diintervensi kepemilikan oleh pihak lain dan SHM adalah status milik penuh oleh warga negara sendiri ( WNI) , Warga Negara Asing dilarang memiliki properti dengan sertifikat lahan SHM. dan satu lagi SHM tidak dibatasi oleh waktu atau mewajibkan pemiliknya memperbaharui sertifikatnya.

Jika dibreakdown kelebihan SHM adalah :
– Sertifikat dengan kekuatan hukum terkuat
– Dapat dialihkan melalui Jual Beli – Hibah – Waris
– Tidak perlu diperbaharui atau tidak ada batas waktunya.

SHGB ( Sertifikat Hak Guna Bangunan ) merupakan hak atas seseorang untuk mendirikan dan memunyai bangunan-bangunan diatas tanah yang bukan miliknya sendiri.

Tanah tersebut dapat berupa tanah yang dimiliki oleh pemerintah ataupun tanah yang dimiliki perseorangan atau badan hukum. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) ini berlaku hingga 30 tahun dan dapat diperpanjang hingga batas waktu 20 tahun.

Kelebihannya adalah dapat dimiliki oleh WNA, lebih cocok untuk yang ingin memiliki properti tidak dalam jangka waktu panjang sedangkan kerugiannya adalah harus diperpanjang pada saat waktu SHGBnya habis.

Bagaimana jika kita membeli properti dengan status SHGB ? Biasanya dari developer tertentu sesuai undang undang mewajibkan status akhir rumah yang dijual konsumen dalam bentuk SHGB. Tipsnya adalah lakukan peningkatan status dari SHGB ke SHM, pengalaman saya untuk pengurusan peningkatan status dr SHGB ke SHM itu mudah, bisa saat transaksi jual beli kita meminta untuk peningkatan status dan anda hanya membayar biaya peningkatan yang tidak lebih dari 5 juta rupiah jika diurus semua oleh pihak Notaris (Johan DIGIPRO)