Pentingnya Mempelajari Fiqh Muamalah

0
712
Photo by rawpixel.com from Pexels

Oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi

Fikih berasal dari fiqh (bahasa Arab) yang berarti pemahaman yang mendalam. Al fiqh fii dien berarti mengetahui* agama Allah dengan pemahaman yang mendalam.

Al fiqh fii dien adalah* sifat orang-orang yang mendapat garansi* dari Nabi Shallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang ditakdirkan Allah guna* menjadi orang baik. Nabi bersabda, “Siapa yang dikehendaki Allah guna* menjadi orang yang baik, niscaya Allah takdirkan orang itu* faqih mengenai* diennya (memahami hukum Allah dengan pemahaman mendalam)“—HR Bukhari dan Muslim

Al fiqh fii dien adalah* sifat sangat pantas* untuk orang seperti* Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya menjadi berpengalaman* Fiqh fii dien. Dalam sebuah* kesempatan, beliau mendoakan, “Ya, Allah! berilah ia (Ibnu Abbas) fiqh mengenai* agama…”. –HR Bukhari dan Muslim

Mencermati dua hadist di atas, kita memahami* bahwa fiqh yang dimaksud Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bukanlah fiqh madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, sebab* Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bukanlah pengekor* madzhab fiqh tertentu. Tetapi pemahaman seorang Muslim yang berinteraksi dengan nash-nash Al-Quran dan hadist, yang lantas* menghasilkan hukum mengenai* masalah tertentu, yang mencakup* akidah, ibadah, muamalah, siyasah (politik) dan semua* masalah yang sehubungan* dengan aspek kehidupan seorang Muslim di dunia.

Seiring perjalanan waktu, arti* kata fiqh menyempit, sampai-sampai* cakupannya bermukim* masalah thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, buyu’ (jual-beli), nikah dan lainnya. Selanjutnya secara terminologi, fiqh diutamakan* untuk disiplin ilmu yang membicarakan* hukum syariat yang berkaitan* dengan amalan zhahir, yang diistinbathkan dari dalil-dalil tafshili (yang rinci).

Dari definisi* terminologi, batasan Ilmu Fikih sebagai berikut:

Membahas hukum syariat. Artinya, hukum yang dipungut* dari AlQuran dan Sunnah laksana* wajib, haram, dan seterusnya. Dengan batasan ini, hukum menurut* akal, adat dan seluruh* yang tidak sehubungan* dengan Al-Quran dan hadist, tidak masuk dalam jangkauan* Ilmu Fikih.
Berkaitan amal zhahir. Maksudnya, berhubungan* dengan amal tindakan* manusia. Karena itu, Ilmu Fikih tidak membicarakan* amal batin dan keyakinan. Bagian ini dibicarakan* Ilmu Akidah.
Hasil istinbath. Yakni riset* ilmiah terhadap alasan* Al-Quran dan Sunnah, serta penjelasan* para ulama (sejak zaman sahabat), guna* mendapatkan benang merah* hukum.
Berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Maksudnya, melulu* menjelaskan permasalahan* terbatas. Misal alasan* sholat, puasa, dan seterusnya. Batasan ini untuk memisahkan* antara Ilmu Fikih dan Ilmu Ushul Fiqh yang diputuskan* dari dalil-dalil global.
Muamalat ialah* hukum syariat yang sehubungan* dengan hubungan antar-manusia laksana* buyu‘, wakaf, gadai, nikah, talak, waris dan beda* sebagainya. Untuk urusan* yang berkaitan* dengan harta (jual-beli, sewa menyewa, warisan dan beda* sebagainya) seringkali* ditambahkan kata maaliyyah yang berarti harta, sampai-sampai* menjadi muamalat maaliyyah.—Dr. Sa’id Abu Habib, Al qamus al fiqhi, urusan* 263

Tetapi belakangan kata muamalat konotasinya muamalat maaliyyah. Sedangkan kajian nikah, talak, dan segala yang berhubungan* dikelompokkan dalam kelompok* khusus, fiqh usroh (fikih keluarga). Dengan demikian, fikih muamalat berarti ilmu yang membicarakan* hukum syariat dalam urusan* muamalat maaliyyah yang adalah*hasil istinbath dalil-dalil tafshili.

Urgensi Memahami Fikih Muamalat
Manusia zaman canggih* seolah dituntut untuk mengoleksi* dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya supaya* bisa hidup pantas* dan tenang menghadapi masa depan, baik guna* dirinya maupun anak cucunya. Pada situasi* inilah insan* tidak peduli lagi dari mana harta yang dia dapatkan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sudah* meramalkan bahwa situasi* ini bakal* terjadi. Beliau bersabda, “Akan datang sebuah* masa, insan* tidak peduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram“.—HR Bukhari.

Sebagian insan* tidak pernah peduli kaidah rabbani dalam menggali* harta, yang diterangkan* dalam fikih muamalat. Mereka tak acuh mempelajarinya dan tidak pernah bertanya untuk* para ulama mengenai* hukum Allah tentang* transaksi yang bakal* mereka lakukan. Manusia jenis ini dianjurkan* memeriksa pulang* akidahnya. Merekalah yang sudah* menjadikan dinar dan dirham sebagai tuhannya dan sama sekali tidak mengindahkan ketentuan* Allah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda mengenai* mereka: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian ….—HR Bukhari

Karena ketidak-tahuan seseorang bakal* fikih muamalat, inginkan* tidak mau, sadar atau tidak, ia bakal* jatuh ke dalam lembah harta haram, petaka besar abad canggih* ini. Allah berfirman, yang artinya, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada* di bumi, dan janganlah anda* mengikuti langkah-langkah setan; sebab* sesungguhnya setan itu ialah* musuh yang nyata bagimu.”—QS Al-Baqarah: 168

Dalam ayat itu* Allah menyuruh* seluruh manusia supaya* memakan harta yang diperoleh* secara halal. Karena makan, menggali* serta menemukan* harta dengan jalan yang haram ialah* jalan yang dirintis oleh musuh bebuyutan anak cucu Adam, yakni* setan. Orang yang tidak memahami* fikih muamalat bakal* melanggar perintah ini dan lambat laun bakal* bergabung dalam kumpulan* pengikut setan tanpa diduga.

Allah berfirman, yang artinya, “Wahai semua* rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang anda* kerjakan.”—QS Al Mu’minuun: 51

Dalam ayat itu* Allah secara khusus menyuruh* para rasul-Nya untuk melulu* memakan makanan yang halal dan diperoleh* secara halal, kemudian* Allah menyuruh* mereka beramal soleh.

Perintah ini akan paling* sulit terealisasi untuk* orang tidak memahami* fikih muamalat. Karena kebodohan* akan fikih muamalat dia tidak bisa* meyakinkan* apakah harta yang dia dapatkan dan dia makan tersebut* halal ataukah tidak halal.

Ayat di atas pun* mengisyaratkan bahwa paling* erat hubungan antara mengkonsumsi makanan yang halal dan amal soleh. Maka tidak boleh* diharap jasad anda* akan bergairah untuk mengerjakan* amal-amal soleh bila** jasad tumbuh dan berkembang dari makanan haram. Jasad yang malas beramal soleh tidak bakal* merasakan kesenangan* ibadah dan mendekatkan diri untuk* Allah. Dan pada gilirannya, suasana* ini akan mengirimkan* jiwa-rohaninya untuk* gundah-gulana sampai* sampai titik hampa dan nestapa. Ini ialah* petaka yang dahsyat terhadap setiap individu* yang memimpikan* kedekatan dengan Maha Penciptanya.

Allah berfirman, yang artinya, “Dan anda* akan melihat banyak sekali* dari mereka (orang-orangYahudi) bersegera menciptakan* dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah lakukan* itu.”—QS Al Maidah: 62

Orang yang tidak mengetahui* fikih muamalat tanpa disangkan dapat* terjerumus ke dalam kelaziman* orang Yahudi, yakni* memakan harta haram. Ini disebabkan* ketidak-tahuannnya bakal* syariat Allah dalam menggali* harta. Orang yang tidak memahami* fikih muamalat dapat* jadi bakal* memasukkan api neraka ke dalam perutnya, sebab* ketidak-tahuannya bahwa transaksi yang dia lakukan ialah* haram.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya masing-masing* daging yang diberi asupan makanan yang haram maka nerakalah yang berhak melumatkannya… “—HR Ahmad; hadist ini ditetapkan* shahih oleh Al Bani

Orang yang tidak memahami* fikih muamalat bakal* terperangkap ke dalam jerat riba tanpa dia nyana. Padahal riba karena* utama kehinaan dan kebinasaan umat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila kalian mengerjakan* transaksi riba, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), memuliakan* tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan untuk* kalian kehinaan, suasana* ini tidak akan ditarik keluar* dari kalian sampai* kalian berpulang pada* syariat Allah (dalam semua* aspek kehidupan kalian).—HR Abu Daud; dishahihkan oleh Al Bani

Nabi bersabda, “Apabila perzinahan dan riba merajalela di suatu* kampung, sungguh mereka sudah* mengundang azab menimpa mereka.”—HR Al Hakim, menurut* keterangan dari* Al Bani bahwa derajat hadist ini hasan li ghairi

Untuk menghindari fenomena, semenjak* zaman Amirul Mukminin Umar bin Khattab telah dipungut* kebijakan preventif. Beliau mengutus semua* petugas ke pasar-pasar untuk mengerjakan* inspeksi, mengenyahkan* para saudagar* yang tidak memahami* halal-haram (fikih muamalat) dalam urusan* jual-beli.— Dr. Nazih Hamad, Al maaliyah wal Mashrafiyyah, hal. 359

Demikian pun* diriwayatkan Imam Malik, bahwa beliau menyuruh* para penguasa untuk mengoleksi* seluruh saudagar* dan orang-orang pasar. Kemudian beliau menguji mereka satu-per satu ketika* beliau menemukan salah satu* mereka orang yang tidak memahami* hukum halal-haram mengenai* jual-beli, beliau melarangnya masuk ke pasar sambil* menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, bila sudah* paham, orang itu* dibolehkan masuk pasar.– Dr. Nazih Hamad, Al maaliyah wal Mashrafiyyah, hal. 359

Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalat

Realitas masyarakat menuntut secara aksiomatis bahwa mempelajari fikih muamalat adalah*fardhu a’in, dalam rangka menghindari hal-hal yang tidak diharapkan* dalam mengais rezeki. Hanya saja fikih muamalat cakupannya amat luas, laksana* lautan tak bertepi, khususnya* muamalat kontemporer. Kenyataan ini menciptakan* kita bertanya, mungkinkah kita dapat* mempelajarinya dengan kesibukan sehari-hari* yang begitu padat?

Bisa!

Al Qarafi dalam karya yang monumental (Al furuq) memberikan solusi* untuk kita. Beliau berkata: “Seorang mukallaf jangan* bercita-cita* mengerjakan* sesuatu sebelum ia memahami* hukum Allah mengenai* hal tersebut, orang yang berkeinginan* berjual-beli me*sti* mempelajari syariat Allah mengenai* jual-beli yang bakal* dilakukannya, orang yang akan mengerjakan* transaksi ijarah (upah, sewa mencarter* dan kontrak kerja) dia me*sti* mempelajari hukum Allah mengenai* ijarah, orang yang hendak* melakukan transaksi mudharabah (bagi hasil) me*sti* mempelajari syariat Allah mengenai* mudharabah.” –Al Qarafi, Al furuq, jilid II, urusan* 148

Pernyataan al-Qarafi menciptakan* kita dapat* sedikit bernafas lega. Andaikan semua ulasan* fikih muamalat me*sti* kita pelajari, tentu anda tidak* mampu memikul keharusan* tersebut. Allah menyerahkan* kemudahan untuk* kita. Kita melulu* dituntut guna* mempelajari hukum Allah mengenai* muamalat yang sedang atau akan anda* geluti, sampai-sampai* memungkinkan guna* kita lakukan.

Setelah ini, tidak terdapat* lagi celah guna* mengelak. Apa juga* keadaannya, Anda me*sti menyisihkan waktu guna* mempelajari permasalahan* transaksi yang bakal* Anda hadapi. Jika tidak, bisa jadi* besar Anda bakal* terjerumus ke dalam maksiat. Semoga Allah membimbing* kita menjadi orang-orang yang faqih mengenai* dienNya.***

* Penulis ialah* doktor Ushul Fiqh alumni* Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, KSA; aktif menulis, menyerahkan* seminar, kajian, ceramah dan diskusi ilmiah mengenai* fikih muamalat di sekian banyak * media

Read more https://pengusahamuslim.com/5293-pengusaha-belajarlah-fikih-muamalah.html